Dairy
Sungguh sulit mencari kerja atau Tuhan punya rencana untuk hari ini. Namun inilah yang aku rasakan. Semenjak aku di wisuda pada tanggal 29 September 2011 tahun lalu dan melepaskan seragam yang disebut Mahasiswa dan mengenakan seragam Pengangguran adalah proses transisi yang mata berat. Sebab aku harus membangun citra dari bawah, artinya aku harus mulai dari nol untuk sesuatu yang aku inginkan.
Makassar kota dunia memberikan aku beberapa pilihan pekerjaan, menjalani profesiku sebagai guru atau aku membanting stir menjadi karyawan di salah satu perusahaan swasta. Semua jadi pilihan aku pasca mengandeng gelas sarjana. Duh, amat bertambah berat bebat yang harus aku pikul sehingga mampu mengnakan toga kebesanku ini.
Deary
Aku akan ceritakan bagimana aku bisa mengnakan toga kebesaranku dengan mata haru. 16 tahun silam, masih teringat di benakku, seorang anak kecil yang yang diurusih ibu serta kakek dan neneknya. Anak itu amat manja pada ibu serta kakek dan neneknya, sebab kala itu ayah anak itu tak pernah se atap dengan ibu. Yah anak itu adalah aku, kala itu aku dan ibu tinggal di atas gunung dan tanpa tetangga sebab masih hutan namun amat sejuk penuh warna dan penuh ekspresi bahagia.
Didepan rumah ku adalah jalan raya yang tiap pagi dilalui anak SDN Labuan Bajo 1, tiap pagi aku hanya melihat dan melihat siswa-siswa itu melewati pelataran rumah ku. Waktu itu umurku masih 6 tahun dan peraturan pemeritah jika ingin memasuki Sekolah Dasar harus berumur 8 tahun. Tentu kala itu saya belum diizinkan untuk sekolah oleh ibu serta kakek dan nenek. Dan tibalah suatu waktu dikala aku benar-benar tak bisa menahan gejolak perasaanku ingin sekolah dan ikut bersama anak-anak yang sering melewati rumah kami.
Malam itu kulontarkan perkataan pada ibu. “mama aku ingin ikut dengan mereka yang tiap pagi lewat d depan rumah, aku ingin sekolah” ucapku. Namun ibu berujar “kamu belum cukup umur”, kakek akupun menambahkan “aduh anak, kamu masih kecil belum bisa sekolah, 1 tahun lagi”. Aku benar-benar tak terima, aku berontak pada malam itu, “aku ingin sekolah” hingga perkataan itu berulang berkali-kali dan akupun terlelap mengikuti malam yang sunyi.
Sang surya pun menerpa diding-dinding rumahku yang amat sederhana. Namun penuh kedamain, walaupun tak pernah ayah bersama aku dan ibu namun kakek dan nenek ku selalu menjenguk kami. Karena kami juga memilki rumah di Terang selain di Labuan bajo. Kakek dan neneku adalah pengusaha minyak dan petani yang terbilang sukses kala itu. Tanah mereka melimpah ruah sehingga kebutuhan aku dan ibu terpenuhi walaupun tanpa ayah. Aku pun semasa kecil tak tahu mengapa ayah dan ibu tidak tinggal berdua walaupun mereka tak bercerai. Pagi itu memecah segala kesejukan sebab kal itu ku lemparkan batu ke arah depan rumahku dan berkata “aku ingin sekolah” dan berulang-ulang, walaupun aku sebenarnya malu di lihat oleh anak-anak SD yang lewat. Ubaku (sebutan buat kakekku) sepertinya tak berfikir panjang, dan dia langsung membawaku ke sekolah dasar. Dan hasilnya cukup memuaskan sebab aku diterima masuk disekolah tersebut padahal sudah caturwulan tiga dan aku masuk sebagai murit percobaan.Sebuah kebanggan buat keluarga ku, karena aku mampu mengubah siswa percobaan menjadi siswa tetap di sekolah dasar tersebut.
Daery
Sejanak ku tinggglkan masa silamu ku, aku hanya ingin bilang aku masih mencari penghidupan. Hari ini aku melamar di MAN Labuan Bajo namun pihak pimpinan menolak ku. Dan aku pu melihat dimatanya dia menggapku sebelah mata. Yah mungkin itu penilaianya sebab aku tak bisa berbua apa-pa sebab itu telah menjadi kekuasaanya.
Mudah-mudahan esok aku akan bisa mendapatkan Sekolah tempat mengajar yang mampu menerimaku bukan karena siapa aku tapi karena apa yang aku miliki. Semoga. Amin.
Labuan Bajo, 11 Februari 2012

