-->

Senin, 13 Februari 2012

Dairy
Sungguh sulit mencari kerja atau Tuhan punya rencana untuk hari ini. Namun inilah yang aku rasakan. Semenjak aku di wisuda pada tanggal 29 September 2011 tahun lalu dan melepaskan seragam yang disebut Mahasiswa dan mengenakan seragam Pengangguran adalah proses transisi yang mata berat. Sebab aku harus membangun citra dari bawah, artinya aku harus mulai dari nol untuk sesuatu yang aku inginkan.
Makassar kota dunia memberikan aku beberapa pilihan pekerjaan, menjalani profesiku sebagai guru atau aku membanting stir menjadi karyawan di salah satu perusahaan swasta. Semua jadi pilihan aku pasca mengandeng gelas sarjana. Duh, amat bertambah berat bebat yang harus aku pikul sehingga mampu mengnakan toga kebesanku ini.
Deary
Aku akan ceritakan bagimana aku bisa mengnakan toga kebesaranku dengan mata haru. 16 tahun silam, masih teringat di benakku, seorang anak kecil yang yang diurusih ibu serta kakek dan neneknya. Anak itu amat manja pada ibu serta kakek dan neneknya, sebab kala itu ayah anak itu tak pernah se atap dengan ibu. Yah anak itu adalah aku, kala itu aku dan ibu tinggal di atas gunung dan tanpa tetangga sebab masih hutan namun amat sejuk penuh warna dan penuh ekspresi bahagia.
Didepan rumah  ku adalah jalan raya yang tiap pagi dilalui anak SDN Labuan Bajo 1, tiap pagi aku hanya melihat dan melihat siswa-siswa itu melewati pelataran rumah ku. Waktu itu umurku masih 6 tahun dan peraturan pemeritah jika ingin memasuki Sekolah Dasar harus berumur 8 tahun. Tentu kala itu saya belum diizinkan untuk sekolah oleh ibu serta kakek dan nenek. Dan tibalah suatu waktu dikala aku benar-benar tak bisa menahan gejolak perasaanku ingin sekolah dan ikut bersama anak-anak yang sering melewati rumah kami.
Malam itu kulontarkan perkataan pada ibu. “mama aku ingin ikut dengan mereka yang tiap pagi lewat d depan rumah, aku ingin sekolah” ucapku. Namun ibu berujar “kamu belum cukup umur”, kakek akupun menambahkan “aduh anak, kamu masih kecil belum bisa sekolah, 1 tahun lagi”. Aku benar-benar tak terima, aku berontak pada malam itu, “aku ingin sekolah” hingga perkataan itu berulang berkali-kali dan akupun terlelap mengikuti malam yang sunyi.
Sang surya pun menerpa diding-dinding rumahku yang amat sederhana. Namun penuh kedamain, walaupun tak pernah ayah bersama aku dan ibu namun kakek dan nenek ku selalu menjenguk kami. Karena kami juga memilki rumah di Terang selain di Labuan bajo. Kakek dan neneku adalah pengusaha minyak dan petani yang terbilang sukses kala itu. Tanah mereka melimpah ruah sehingga kebutuhan aku dan ibu terpenuhi walaupun tanpa ayah. Aku pun semasa kecil tak tahu mengapa ayah dan ibu tidak tinggal berdua walaupun mereka tak bercerai. Pagi itu memecah segala kesejukan sebab kal itu ku lemparkan batu ke arah depan rumahku dan berkata “aku ingin sekolah” dan berulang-ulang, walaupun aku sebenarnya malu di lihat oleh anak-anak SD yang lewat. Ubaku (sebutan buat kakekku) sepertinya tak berfikir panjang, dan dia langsung membawaku ke sekolah dasar. Dan hasilnya cukup memuaskan sebab aku diterima masuk disekolah tersebut padahal sudah caturwulan tiga dan aku masuk sebagai murit percobaan.Sebuah kebanggan buat keluarga ku, karena aku mampu mengubah siswa percobaan menjadi siswa tetap di sekolah dasar tersebut.
Daery
Sejanak ku tinggglkan masa silamu ku, aku hanya ingin bilang aku masih mencari penghidupan. Hari ini aku melamar di MAN Labuan Bajo namun pihak pimpinan menolak ku. Dan aku pu melihat dimatanya dia menggapku sebelah mata. Yah mungkin itu penilaianya sebab aku tak bisa berbua apa-pa sebab itu telah menjadi kekuasaanya.
Mudah-mudahan esok aku akan bisa mendapatkan Sekolah tempat mengajar yang mampu menerimaku bukan karena siapa aku tapi karena apa yang aku miliki. Semoga. Amin.

Labuan Bajo, 11 Februari 2012

Read More..

Sabtu, 11 Februari 2012

“Aku Mencarimu Kawan”


Jangan tanyakan pada api tentang diriku
Pun dia akan berujar buruk tentang ku
Bisik angin tentang diriku
Pun dia hanya berucap tentang petaka ku

Jangan lari dariku kawan
Sebab jika salah menoreh perasaanmu
Maka basuhlah dengan iklas dan ulurkan penamu
Tuk mengetuk aksara batinku yang mulai retak

Jangan lari dariku kawan
Bisikkan saja apa yang membuat penahmu  tak mampu menulis
Pun aku akan pasrah dengan keptusan jiwamu
Aku mencarimu kawan
Karena pena ku berdarah saat kau pergi meniti air mata.

Labuan Bajo, 10 Februari 2012
Read More..

Aku Hanya Mencari



Sobat blog,
Malam ini aku hanya bisa menulis tntang dia yang aku cari. Dia yang aku kenal lewat akkun Facebook. Dia yang bagi aku bisa bantu segala promlem hidupku. Mungkin pula dia yang mampu mengajariku tetangsosok laki-laki yang sejati. Sebab jauh dari lubuk hatiku aku ingin mengetahui kehidupan laki-laki yang sebanarnya. Hanya  kata possible yang bisa terlontar lewat mulut ku ini. Sebab aku masih mencari sosk yang bisa ku tumpahkan segala masalah ku.
Dari SMA aku punya sahabat yang sudah mampu menyelesaikan apa yang menjadi masalah aku selama ini. Namun setelah lulus SMA kamibukan nya tambah akur namun malah hubungan kami makin renggang. Entah apa yang membuatnya tak mengangkat telpon dan membalas SMS. Aku memang bukan sosok sahabat yang prefek di mata dia namun untuk jadi sempurnah sudah saya usahakan.
Yah,memang sulit bersahabat dengan aku yang kata orang aku kemayu sedangkan aku sendiri tak mengerti dengan hal itu bahkan aku tak merasakan aku tak seperti itu. Orang selalu menilai aku negatif bahkan mungkin orang yang mengerti persaanku yang mampu menerima keadaan ku ini.
Entalah, sekarang aku makin terpukul ketika aku berusaha dekat dengan seoarang laki-laki yang mungkin aku bisa berbagi ilmu, dan pengalaman denganya. Namun hanya dua hari aku berteman di akkun Facebook denganya dan setelah itu dia sepertinya memblokir akkun Facebook ku.padahal jika aku membuka akkun Fb nya di akkun Fb temaku dia masi bisa di lihat namun jika di buka d akkun FB ku dia tak muncul.
Aku benar-benar terpukul bahkan shoc, siapa yang bisa aku salahkan di posisi ini, apakah Tuhan, atau orang tua saya ataukah siapa..??. apa yang salah dari diri saya, yah saya mengenal dia dengan nama IVAN WIDYAWAN, nama yang sangat bagus. Dan alasan saya mengajukan diri menjadi temannya di akkun FB hanya karena saya ingin belajar fotografi dari dia. Aku tak tau dimana letak kesalahanku bahkan dia tak mengungkapkan padaku. Apakah jika aku berbuat salah hanya ditinggalkan tanpa aku ditegur untuk bisa aku rubah sikap ku.
Yang membaca tulisan ku ini mungkin akan beranggapan aku begitu cengeng menjadi seorang laki-laki tapi jujur, terlalu banyak yang harus aku pendam, terlalu banyak yang harus aku sembunyikan, aku hanya ingin berbagi dengan siapa saja yang mengerti.
Pun jika IVAN baca tulisan blog ini aku hanya bisa bilang maaf, aku hanya ingin jadi bagian hidupmu bukan untuk yang lain. Aku hanya ingin cari jati diriku kawan. Dari luar tubuhku banyak yang beranggpan bahwa aku adalah laki-laki kewanitaan tapi mungkinkah denga fisikli yang seperti ini batasan bergaul harus ada padaku.
Aku benar-benar tertarik dengan siapapun yang kreatif termaksud kawan aku Ivan, foto-foti di akkun Fb nya memikat ku untuk melihatnya. Aku pecinta seni yang berat, aku suka orang yang berkarya yang menghabiskan waktunya untuk sebuah karya yang bisa berguna bagi orang banyak. Pun aku ingin belajar dari apa yang mereka buat, aku ingin mengetahuinya.
Sampai saat ini aku hanya bisa berharap aku bisa ketemu dengan Ivan Widyawan dan bisa belajar seni fotografi dengannya. Sesekali aku menggunakan akkun teman untuk melihat foto-foto terbaru ivan, yah sangat keren.
Aku hanya inginberkata pada mereka yang membaca aku mengaggumi laki-laki bukan berarti aku gay bukan berarti aku homo, aku hany ingin lebih dekat namun mungkin hanya caraku yang salah atau fisik ku membuat orang salah menilai.
Inilah resiko ku yang tak pernah mengenal kasih sayang laki-laki (ayah) sehingga sampai sekarang aku tak bisa membedakan perhatian kepada laki-laki dan pada perempuan. Semoga suatu saat aku bisa membedakan jika ada seseorang yang mampu mengajariku

“Aku Mencarimu Kawan”

Jangan tanyakan pada api tentang diriku
Pun dia akan berujar buruk tentang ku
Bisik angin tentang diriku
Pun dia hanya berucap tentang petaka ku

Jangan lari dariku kawan
Sebab jika salah menoreh perasaanmu
Maka basuhlah dengan iklas dan ulurkan penamu
Tuk mengetuk aksara batinku yang mulai retak

Jangan lari dariku kawan
Bisikkan saja apa yang membuat penahmu  tak mampu menulis
Pun aku akan pasrah dengan keptusan jiwamu
Aku mencarimu kawan
Karena pena ku berdarah saat kau pergi meniti air mata.

Labuan Bajo, 10 Februari 2012




Read More..

Jumat, 06 Januari 2012

MASIH SEMPAT



Senyum itu adalah sebuah perkataan jiwa
Yang terhempas kala keterpurukan itu datang
Indah merona dan menyentuh jiwa yang dalam
Mengelabui tiap rona wajah yang lesu
Maka tersenyumlah demi cinta
Read More..

MUNGKIN HANYA KATA


“Asisten yang jahat
Untuk mama yang ada dikampung “Aku minta maaf MA’ karena aku gagal menjalankan amanah dari mama” kemarin aku tidak masuk praktikum, hanya karena persoalan laporan. Aku memang anak yang tak pantas untuk mama banggakan….
Untuk asisten yang jahat, Apakah kalian punya hati.?, mengapa kalian sungguh kejam membuat air mata mama saya jatuh.? Apakah kalian juga tidak mempunyai mama yang seperti saya..??? yang ingin melihat anaknya menjadi seseorang yang dia inginkan… Mengapa???…..Mengapa kalian membuat air mata mama saya jatuh, uang yang dia dapatkan untuk membeyar uang praktikum tidak segampang seperti mengembalikan telapak tangan, namun mengapa kalian asisten yang jahat yang menerima uang dar hasil kerja keras mama saya lalu kalian melarang kami untuk masuk praktikum… Apakah ini bentuk pembalasan dendam parah asisten yang jahat,,??? Sekalih lagi Ma’ aku minta maaf. Aku harap air mata mama adalah pelajaran buat aku dan pelajaran buat para asisten yang jahat.
“Aku Cinta Mama”
(dikutip dari Facebook Abdy Miosis)

Entah saya harus memulai dari mana, sebab tulisan di atas mengantarku pada kesedihan yang amat dalam. Pertanyaan yang muncul adalah “berapa banyak lagi abdy yang akan menulis tentang hal serupa?”. Saya tak bisa menyalahkan abdy karena menulis gundah gulannya sebab itulah apresiasi sastranya, dan saya pun tak bisa menyalahkan asisten sebab aturan bercumbuh denganya.
 “air mata mama”, sebuah kalimat yang amat dalam. Betapa tidak kegalauan seorang abdy dan penyesalanya karena tak masuk praktikum bisa di bilang adalah sebuah kekecewaan yang amat dalam. Perasaan bersalah akan kepercayaan yang diberikan orang tuanya. Belajar dan berbuat adalah hal yang utama yang ditanamkan orang tua. “mama adalah Tuhan dimata seorang anak” ungkapan ini bila di sandingkan dengan tulisan abdy terdapat terkaitan yang amat erat.
Kekecewaan pada asisten (pembimbing praktikum pengganti dosen) sebenarnya telah lama terjadi pada mahasiwa biologi di UIN alauddin Makassar, hanya tidak semua dipublikasikan. Sayapun pernah seperti abdy, perasaan bersalah dan jengkel pada asisten. 4 tahun yang lalu tepatnya waktu itu saya masi semester satu. Saya tak mengerti dengan system tapi system mengajarku tentang mengetik menggunakan mesin ketik. Dahulu memang belum banyak yang tahu tentang koputer bahkan untuk nongkrong di dunia maya belum ada dan dahulu sebelum ada facebook, mahasiswa seperti saya masi menggunakan friendster. Praktikum pertama, begitu menyebalkan buat saya, Kimia Dasar, saya harus di pantul sebanyak 4 kali dan teman saya malah lebih dari itu. Acc pertama saya disuruh ulang satu laporan mulai bab satu sampai daftar pustaka karena saya tak menggunkan spasi satu setengah. Saya meminta keringanan pada coordinator praktikum Kimia namanya syamsul alam, tapi dia tak memberi tolerir sebab aturanya begitu. Dan terpaksa saya harus menggantinya dengan kesabaaran dan sedikit air mata jatuh di kertas-kertas putih itu. Saya mungkin terlalu cengeng sebab saya tak kuasa menghadapi mesin ketik yang baru buat saya, yang tak pernah kubayangkan sebelumya. Acc kedua, saya masi dipantul karena masalah latar belakang. Kemudian acc ketiga saya dan teman kelompok saya ke rumah asisten saya untuk memeriksa ketigaa kalinya. Dan laporan saya dan teman saya waktu itu masi di pantul hanya masalah tulisan. Kami tidak ditanya mengenai isi laporan tapi kami di tanya kenapa tulisanya begini, kenapa garisnya begitu?. Malam itu saya dan teman saya berusaha memujuk agar di acc dulu tapi asisten tetap tak memberi harapan.
Malam ini saya dan teman-teman saya tidak terima apa yang dilakukan asisten, apa lagi malam itu hujaan-hujan dan kami rela jalan dari kos kami masing-masing hanya ingin sebuah nilai dan bisa masuk praktikum berikutnya. Belum lagi kami harus selesaikan laporan Biologi dan Fisika. Malam yang penuh kejengkelan, dan waktu pulang kejadian yang tak di duga, teman saya hampir tertabrak motor. Oh Tuhan entah apa yang harus kami perbuat, entah apa yang harus kami lakukan agar kami di bimbing penuh cinta dan kasih sayang.
Cerita di atas adalah sebagian kecil dari cerita yang membuat perasaan jengkel. Namun akan saya utarakaan cerita yang mungkin aasisten yang pernah menjadi asistku di praktikum Fisiologi Tubuhan. Hal yang serupa yang di alami abdy, saya tak diperkenankan masuk praktikum karena saya belum meriksa laporan. Laporan Fisiologi adalah laporan yang harus di tulis tangan dan tulisan saya begitu jelek. Praktikum pertama saya hadir dan saya mengerjakan laporan, dan sempat saya periksa pada asisten yang bersangkutan. Praktikum kedua saya hadir namun pada saat itu saya mengalami masalah keluarga yang begitu dalam, ayahku menelpon dan menyuruh saya pulang agar tidak melanjutkan kuliah sebab beliau tak mampu membiayaiku. Pada saat itu saya benar-benar tak bisa berfikir panjang dan bagi saya inilah masalah yang begitu besar, pilihan pertama saya bertahan dan kuliah tapi ayah tak akan mengirimkan uang lagi pada saya. Dan pilihan kedua saya harus pulang tapi saya sudah semester empat. Semuanya jadi bertubrukan antara pilihan satu dan dua, mana kala itu laporan saya per minggu ada 4 laporan yang harus di selesaikan. Saya benar-benar putus asa. Di saat kuliah dan praktikum begitu padat saya harus berbentur dengan pilihan yang amat sulit. Akhirnya saya putuskan tetap kuliah, dan waktu itu saya langsung bekerja. Sulit rasanya mebagi waktu untuk kerja laporan dan untuk cari uang. Hingga akhirnya 2 laporan Fisiologi tumbuhan tak saya kerjakan. Pada praktikum keempat saya tak di izinkan masuk, dan pikiran saya waktu itu amat kacau. Saya tau saya yang salah, saya tak bisa berbuat apa-apa, padahal akal saya cepat berfungsi biasanya tapi pada saat pikiran saya amat pendek dan tidak mau melanjutkan praktikum selama dua kali praktikum. Tapi saya mengingat waktu asistensi kalau dua kali tak mengikuti praktikum masih bisa ingkut praktiku berikutnya dan akhirnya dengan semangat yang tersisa saya pun mengerjakan laporan yang tertunda, setelah selesai akhirnya saya menghadap asisten saya dan apa yang dia katakan pada saya “jangan mako bawa laporanmu, kau tidak bisami masuk praktikum minggu ini” katanya kepadaku dihadapan teman-temanku. Tanpa pamit ketinggalkan asisten yang bai hati itu. Dan kuputuskan biarlah aku tak mengikuti parktikum Fisiologi Tumbuhan sampai selesai. Saya begitu tak habis berfikir, semaangat yang tersisa dikubur oleh batu bara yang panas, sepertinya dia dewa yang menentukan keputusanya. Kalau mau di bilang rasa benci pada asisten tersebut masi tersisa. Saya berusaha bangun dari jurang tapi masih ada reruntuhan yang menimpakau. Maka sampai saya sarjana saya membawa nilai Fisiologi Tumbuhan dengan nilai 1 (satu) dan tertuang di transkip nilai akhirku.

Tak ada yang berbeda dengan tulisan abdi, sebab hal serupa yang dilakukaan aabdy dan kawan-kawanya pernaah saya laakukan dengan kawan-kawaanku pada waktu praktikum Botani Tingkat Tinggi (BTT). Cerita-cerita di atas tak ada maksud menyudutkan asisten sebab saya pun adalaah asisten. Hanya saja sampai kapan kisa seperti saya, seperti abdy dan kawan-kawan yang lain berakhir? Apakah harus menunggu super hero yang akan menyelesaikan nya atau kita hanya membicarakannya setelah itu lenyap?. Setidaknya tak aka ada air mata mama mengalir karena anaknya. entah esok atau atau kapan.





Read More..

Sabtu, 24 Desember 2011

AKU MEYIMPANG DARI KORIDOR SEKS

 “Hidup untukmu dan hiduku untukku” sebuah kata yang penulis anggap wajar terlontar ketika dunia mengajari sebuah makna. Banyak orang ketika masalah atau hal yang kecilpun akan diceritakan pada orang tua, sahabat atau teman-temannya. Hal yang sering di lakukan oleh sepasang kekasih kala benih cinta menerpa mereka. Bercerita tetang masa lalu dan masa yang akan datang. Dan bagi penulis itulah keindahan yang belum sempat penulis rasakan. Dunia mengajari tentang hidup, dunia pula yang mengajari tentang keterbukaan dan menutup diri. Hanya sebuah tipuan belaka yang selama ini dilakukan. Sahabat, orang tua, atau teman-teman tak ada yang tau persis siapa penulis sebenarnya. Kalau pun mereka tahu hanya sebagian dari kisah hidup. Tingka laku dan berpakain sebuah trik dalam mengatasi hidup. Penulis belajar untuk jadi orang yang mampu menyenagi orang disekeliling. Padahal dibalik senyum, tawa,hanya menutupi segala yang terjadi.
HIV, yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah Virus penyebab AIDS. HIV yang ditularkan memalui hubungan seks (oral, anal dan vaginal), jarum suntik. Sepertinya HIV adalah kegelapan yang panjang buat penulis. Seks bebas, tak mengirah manusia sperti penulis adalah tipekal sesorang yang sering berhubungan seks. Bahkan kelakuan seks yang tidak wajar. Berhubungan dengan wanita mapun dengan laki-laki. Penulis berharap bukanlah ganguan mental atau sebuah ketidak wajaran. Dan penulis masi dalam keadaan menerka-nerka tentang penyimpangan seks yang dilakukan.
Semasa kuliah seks bagi penulis adalah kebutuhan yang harus di lakukan tiap bulan bahkan tiap minggu, baik laki-laki mapun wanita. Mungkin dengan wanita adalah hal yang wajar karena kodrat berkata begitu bahwasannya Tuhan menciptakan laki-laki dan wanita untuk berpasang-pasangan. Tetapi dengan laki-laki adalah sebuah tindakan yang begitu menyimpang. Penulis hanya bisa berkata wanita dan laki-laki sama-sama menggairahkan. Penyimpangan seks ini sebenarnya telah lama terjadi pada penulis,  6 tahun lalu penulis pernah di sodomi oleh dua orang bersaudara dan laki-laki semua. Hal yang menyakitkan kala itu, tak ada yang bisa diperbuat sebab mereka menyekapku dan mengajariku hal yang buruk dan menurut mereka itu adalah wajar. Orang tua tak mengetahuinya sebab dari kecil mereka tak bersama dan penulis hanya tinggal bersama keluarga. Kejadian itu adalah misteri yang amat buruk bila dikenang, bahkan berulang kali mereka lakukan.
Selama tiga tahun penulis selalu menghindar karena tentu penulis tahu itu ada hal yang buruk dan menyimpang. Namun 3 tahun menghindar dari penyimpangan seks, masa kuliah mengantar kembali pada jurang yang telah lama ku lupakan. Setiap kali wanita yang dipacari tak hebat jika tak berhubungan dengannya dan rasa bersalah, berfikir dosapun lenyap dari ingatan. Dunia kembali berujar inilah hidumu maka jalani hidupmu. Mencintai dan menyakiti (berhubungan) adalah sebuah misi utama layaknya tentara yang akan berperang, perlu strategi yang matang.
Tak satupun orang mengetahuinya, hanya mereka yang pernah berpacaran denga penulis. Tuhan menegurku dengan penyakit siffilis namun penulis tapik itu adalah wajar. Hidup yang selalu jauh dari kebahagian, tak pernah tinggl bersama orang tua, membiayai kuliah sendiri. Adalah salah satu penyebab dari terlupanya Tuhan pada diri penulis. Tidak puas dengan wanita penulispun berhubungan badan dengan laki-laki. Sesorang pernah mengajariku tentang dunia gay, dia berkata “bila kamu menyangi sesama jenis, itu adalah karunia yang patut disyukuri”. Sebuah kata-kata yang amat mengagetkan. Nafsu seks lah yang menguasai sehingga laki-laki pun di jadikan teman berhubungan. Namun untuk mencintai dan berpacaran dengan laki-laki adalah hal yang mustahil buat penulis. Tapi apakah berhubungan badan dengan sesama jenis tanpa berpacaran, tanpa mencintai adalah termaksud gay?.
Bulan demi bulan bahkan tahun bergati bagi penulis adalah seks. Pikiran yang buruk dan tidak bercermin pada latar belakang pendidikan yang bernuansakan islam. Bebrapa dokter yang pernah berbicara di radio mengatakan bahwa agar hidup terhindar dari hal buruk (seks bebas) harus beraktifitas tiap hari. Dan penulis membantahnya malah beraktitas membuat gairah seks meningkat. Penulis adalah seorang yang menggeluti dunia seni, aktifitas pada bahkan tiap hari namun tak membuat pikiran buruk (seks bebas) menghilang dari benak. Makin capek malah makin bergairah. Entah nanti akan berhubungan dengan wanita atau laki-laki.
Selama kuliah kegiatan rurin adalah belajar, berorganisasi dan seks bebas. Tak ada yang tahu. Hanya penulis dengan pasangan. Ingin rasanya ada yang bisa dibertahu dan memberi saran. Ingin rasanya menanyakan pada orang tua tapi apa daya mereka tak pernah peduli. Semuanya penulis jalani sendiri dengan kesabaran dan penuh ketakutan pada dampak yang akan terjadi. Sikap humoris, tawa yang unik, penampilan yang meyakinkan. Kecerdesana yang patut diperhitungkan (sombong sedikit) namun dibalik semua itu ada hal yang begitu berat untuk diceritakan begitu takut dan kecewa akan dampaknya.
Bahkan sebelum menulis ini pun penulis baru saja berhubungan (seks bebas) dengan seorang wanita yang tidak memilki status pribadi. Tuhan, bukan kematian yang menjadi ending hidup ini bukan penyesalan yang menjadi akhir tulisan ini. HIV AIDS menjadi renungan selama ini. Ingin rasanya memeriksakan darah pada dokter namun tak punya kekuatan akan hal itu dan mungkin ceritanya akan berujung pada penyakit dan kematian. Tuhan, Apakah penulis mengidap HIV?,
Hidupku adalah halilintar Tuhan
Aku yang mengajari langka yang baik atau buruk
Maka aku pula yang akan mreasakanya
Tuhan aku telah jatuh pada lubang yang sama
Maka
Perknanlah aku memohon berilah seseorang yang mengajariku kesadaran hidup.



Read More..